Minggu, 27 Maret 2016

Andai Bumi Bisa Bicara

Bumi kita sudah semakin tua. Semakin lelah menopang segala beban yang dibebankan pada bumi sejak jutaan bahkan milyaran tahun. Selama hidupnya ia telah menjadi saksi bisu akan kelakukan penghuninya yang rasanya tak ada ujungnya.

Bumi ini semakin rapuh, rapuh tanahnya, rapuh iklimnya, dan rapuh penghuninya. Entah salah siapa? Bumi hanya bisa merenung lirih melihat kelakuan penghuninya yang dirasa semakin parah. Ia hanya mencoba sabar dan bertahan hingga masa dimana tanggung jawabnya terpenuhi.

Our Earth, Picture by Stokpic Pixabay.com
Andai bumi dapat berbicara mungkin ia akan melayangkan keluh kesahnya bahwa ia sudah tidak mampu lagi. Tapi apa daya, hidupnya yang sudah diatur oleh kekuasaanNya.

Tak banyak yang bisa ia lakukan selain bergerak sebagaimana mestinya dan memberi sedikit peringatan kepada penghuninya.

Penghuninya banyak, sangat banyak. Mereka terus lahir dan terus mati. Mereka nggak ada yang sempurna. Yang sifatnya baik banyak, tapi yang sifatnya buruk juga nggak sedikit. Sebagian dari mereka haus akan kekuasaan, tak sedikit pula yang saling membunuh untuk mendapatkannya. Mereka banyak yang dengki, menyebar kebencian merupakan hal yang paling disukai.

Saling perang, saling adu, saling tembak, saling bunuh masih bertebaran, bahkan terang-terangan. Polemiknya selalu saja klasik, kalau tidak agama, pasti ras. Kalau tidak ras, pasti kelompok. Tidak saling menerima perbedaan yang membuat semuanya seperti ini.

Bumi selalu sedih melihat kelakuan penghuninya yang demikian. Tapi bumi sadar dan tersenyum bahwa masih ada segelintir orang yang masih bisa jadi harapan, yang masih peduli, yang masih mau mengasihi, yang saling memaafkan, yang menebar kebaikan dan tidak mudah terhasut akan omongan yang belum tentu benarnya.

Walaupun jumlahnya sedikit, tapi bumi percaya bahwa mereka masih bisa jadi harapan untuk semuanya kembali seperti apa yang diharapkan. Walaupun waktunya entah kapan dan terjadi atau tidak.

Kini ia hanya bisa membayangkan betapa indahnya dunia, ketika manusia saling bantu, saling peduli, saling sabar tanpa memperdulikan perbedaan. Dimana hanya ada senyuman yang menghiasi, hanya ada jabatan tangan, rangkulan, bahkan pelukan arti dari keperdulian. Tidak ada tangisan, kelaparan, serta kehilangan kerabat tersayang akibat perang yang sia-sia.
Ahhhh,, sungguh imajinasi yang menyenangkan.

Sekarang bumi masih menangis melihat penghuninya yang semakin lupa akan tugasnya. Yang masih saja sibuk mencari kesenangan semata tanpa peduli, yang masih saja saling rebut dan mencemooh demi kekuasaan yang bersifat sementara.

Entah sampai kapan akan berakhir....

lahir era tahun "95" menjadikan seorang bayu, pria mochi semakin beranjak umur. Punya hobi ngedekem di kamar setiap 'weekend' akibat suka-duka mencari segenggam rezeki.


Terimakasih kepada Allah SWT yang telah memudahkan segala jalan yang gue tempuh. Terimakasih juga karena telah mengirimkan special persons ; teman-teman gue, rekan-rekan kerja gue, dan keluarga yang perfect banget yang selalu menyokong gue untuk selalu maju ke depan.

Semoga apa yang gue saat ini kerjakan bisa bermanfaat buat gue dan orang lain. Aminn. wish me luck!! thank you xoxo

yukkk dimari yang mau komentar...
NOTE : jangan masukin link aktif, nnti di deteksi SPAM.
EmoticonEmoticon