Senin, 24 April 2017

Dilema Antara Jurusan Pilihan Orang Tua atau Pilihan Sendiri

“Malam itu mendung. Aku berjalan mempercepat langkah menyusuri gang berpaving melewati germelap lampu-lampu teras rumah. Dari jarak agak kejauhan, kulihat tepat di depan rumahku berdiri 2 orang muda-mudi yang entah gerangan siapa masih tertutup gemayang malam”

“Mulai dekat dan kudapati dek Hilma bersama dengan temannya pria berdiri dengan membawa secarik amplop cokelat yang entah isinya apa”

“Dek hilma??? Begitu panggilku.. sambil menyodorkan senyuman termanis kepada 2 orang itu”

Dengan raut muka memadam dan mata merah, Hilma berkata; “Kak??? Irma mau curhat boleh nggak??”

Dari situ kudapati bahwa dia sedang dirundung masalah.. kode di wajah dan matanya sudah cukup membuktikan.

Kejap senyumku hilang,, “kenapa??? Cerita aja hayukkk... masuk kedalam” aku mempersilahkan mereka untuk masuk..

“sebentar,, aku buatin minum dulu yah.. maaf loh, dirumah lagi nggak ada orang jadinya cuma aku sendiri disini”

“iyah bang makasih” ucap pria yang kusimpulkan dia pacarnya Irma.

Meracik minuman teh hangat dengan maksud menenangkan sang hati yang lagi gemuruh. Batinku terus bertanya... ada apa gerangan dengan Irma. Pribadi yang kukenal selalu ceria tiba-tiba muncul di malam yang muda dengan raut wajah sedih, ditemani dengan pria lagi...

Pikiranku mulai menggerayang kemana-mana... atau jangan-jangan.... ahhh nggak mungkin.. naudzubillah...

Menyodorkan teh angat.. ku memulai pembicaraan...

“gimana dek??? Kenapa?? Kayanya kamu lagi ada masalah yah... sini cerita aja ke mas, nggak usah sungkan..”

Tanpa banyak bicara, Irma menyodorkan amplop cokelat  yang selama ini dia peluk di dada..

Di dalamnya terdapat kertas yang bertuliskan sebuah headmap.. “FORMULIR PENDAFTARAN KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA”

Dari situ aku bingung.. ada apa dengan formulir itu...

Dengan suara pelan menahan isak, Irma mulai bicara “mamah kak!! Nyuruh aku buat daftar disitu... tapi aku nggak mau, karena itu bukan pilihan aku.. Papah juga setuju buat nyuruh aku masuk situ... aku harus gimana kak???”

Sekejap pikiran dan ucapanku diam. Teringat akan masa laluku yang pernah mengalami hal sama.
bingung antara pilihan orang tua sama diri sendiri
Seraya memikirkan jawaban yang tepat untuk adik kelas yang sudah kuanggap adik sendiri. Aku bertanya kepada dia.

“Alasan kamu nggak mau masuk situ kenapa???” tanyaku

“nggak cocok kak, Irma nggak cocok. Pasti berat, kakak tahu sendiri gimana polisi itu. Aku nggak mau kalau aku nggak bisa maksimal disana. Aku nggak mau kalau disana aku merasa terpaksa. Dan aku juga nggak mau kalau nantinya malah orang tuaku yang kecewa karena aku nggak bisa ngikutin disana” jawab Irma...

“Kalau aku pikir, sebenarnya nggak ada salahnya juga. Mungkin kamu khawatir akan apa yang bakal terjadi kalau kamu masuk ke sana. Mungkin kamu terlalu fokus sama brosur lama yang dibicarain orang-orang yang katanya masuk kepolisian itu berat. Entah pelatihannya atau apapun itu. Yah memang semua bakal kamu yang ngejalanin. Tapi yah kalau kata aku sih nggak ada salahnya juga untuk dicoba” balasku

“Tapi Kuliah bukan buat coba-cobaan kak... tahu sendiri biaya kuliah nggak murah. Buat apa aku ngejalanin semua itu kalau nantinya malah aku yang nantinya kesusahan, sama terpaksa. Pasti kakak tahu sendiri gimana rasanya ngejalanin sesuatu dalam keadaan terpaksa” jawabnya

Bibirku tersenyum mendengar jawaban Irma... “terus kamu mau masuk ke jurusan apa??”

“Perawat kak atau bidan atau kesmas. Tapi aku lebih mau ke jurusan perawat..” jawab Irma singkat

“Kenapa???”

“aku tertarik aja buat masuk sana. Dulu waktu kelas satu sampai dua SMA, aku ikut kegiatan PMR kak.. bahkan aku juga pernah menang lomba jambore dulu. Karena itu aku mau masuk kesana. Belajar tentang kesehatan.” Jelas Irma

“nah terus yang kamu tangisi apa??? Coba aku tanya ke dek Irma, mamah maksa nggak buat kamu masuk sana???”

“pas aku pulang dari sekolah, mamah yang ngambilin formulir itu. Mamah antusias banget buat aku masuk kesana..”

“terus kamu bilang apa??”

“Aku cuma bilang aku coba, karena aku nggak mau mamah kecewa, makanya aku bilang coba”

“nah ituu... Padahal kamu punya alasan yang tepat buat ngejawab semuanya. Bilang ke mamah, ceritain aja semuanya termasuk jurusan yang kamu mau maupun hambatan kalau kamu seandainya tetap daftar di jurusan yang mamah kamu mau.”

“Nggak usah ada yang disembunyiin tentang apa yang kamu suka sama apa yang kamu mau. Pasti mamah ngerti kok. Yang penting kamu harus janji sama dirimu sendiri kalau kamu nggak mau ngeliat papah mamah kecewa dan kuliah bener-bener.”

“Okee???” terangku sambil menjentikkan jari..

“iyah mas, makasih”

“yaudah kalau gitu, ayo kita keluar cari makan. Aku yang bayar... laper nihhh!!”

*senyum-senyum bahagia....


lahir era tahun "95" menjadikan seorang bayu, pria mochi semakin beranjak umur. Punya hobi ngedekem di kamar setiap 'weekend' akibat suka-duka mencari segenggam rezeki.


Terimakasih kepada Allah SWT yang telah memudahkan segala jalan yang gue tempuh. Terimakasih juga karena telah mengirimkan special persons ; teman-teman gue, rekan-rekan kerja gue, dan keluarga yang perfect banget yang selalu menyokong gue untuk selalu maju ke depan.

Semoga apa yang gue saat ini kerjakan bisa bermanfaat buat gue dan orang lain. Aminn. wish me luck!! thank you xoxo

6 komentar

Mas, akau hamil....

*semaput*

tapi salah jurusan itu asyik kok
beneran hehe

kalau dipikir-pikir ulang iyah sih mas ada benernya juga.. hahaha

jeng-jeng..... aku bakal bilang yaudah lah yah nikah aja.. wkwkwk

Menentukan pilihan itu kadang bikin panas otak.

Orang tua macem gini yang perlu disikat. Gw ngalamin dan ga enak

yukkk dimari yang mau komentar...
NOTE : jangan masukin link aktif, nnti di deteksi SPAM.
EmoticonEmoticon