Selasa, 19 September 2017

Gue dan Asma

Mungkin kali ini gue mau cerita aja kali yah....

gue nggak tau hubungan gambar ini sama gue apa.. hahaha tapi yaudahlah yah. berhubung gambarnya bagus.. via pixabay.com

Serangan sesak kemarin adalah yang paling terparah. Well, at least that what I'm thinking right now since the last asthma attacks tragedy in last 2 months.

Sesak nafas mulai gue derita sejak SMA di tahun terakhir, hilang sementara dan muncul kembali saat kuliah. Dulu pas periksa di zaman SMA, 2 RS ngediagnosis gue berbeda. 1 bilang gue, kalau itu adalah kontraksi dari kerja pangkreas #mereka bilang sih hal biasa. Mereka cuma ngasih gue obat anti inflamasi yang gue lupa namanya.

RS yang kedua bilang bahwa gue terkena asma. Dan mereka nyaranin gue buat ikut terapi nebulizer yang entah gue mikirnya macem-macem. Itu terapi apa ya....???

“hah?? Asma??? Yakin?? Keluarga gue nggak ada yang punya asma kok..” batin gue bertanya

Dan ternyata itu adalah sejenis terapi inhalasi yang menggunakan metode uap air yang dicampur dengan obat-obatan... gue ngelakuin hal itu kurang lebih selama 4 bulan.. dan dibarengi dengan inhaler tipe pelega. Merknya gue lupa apa. Hanya saja dokter nyaranin untuk di pakai saat sesak.

Itu cerita SMA. Setelah 4 bulan ikut terapi dan berbekal dengan inhaler. Sesak nafas sudah tidak lagi muncul. Gue pun kuliah di semarang. Di Unnes, sebuah universitas yang terletak di daerah GunungPati.

Semuanya lancar hingga masuk semester dua dimana gue tergabung dengan salah satu organisasi kemahasiswaan tingkat jurusan.

Serangan sesak pertama setelah sekian waktu lulus dari SMA terjadi.

Entah karena apa, gue juga udah lupa. Yang gue inget, Saat itu hujan sedang derasnya di kawasan kampus. Gue dan beberapa temen organisasi Himpro Tekkim terjebak di daerah gedung E2 kalau tidak salah. Abis rapat sepertinya.

Udara cukup dingin saat itu. Kita biasa berteduh sambil ngelempoh dilantai, ngobrol dan ketawa sana sini, teriak-teriak nggak jelas.

Di momen seperti itu, tiba-tiba dada gue terasa seperti terhimpit. “Ya Allah, dada gue sesek” keluh gue.

Dan akhirnya candaan pun terpecah menjadi kepanikan.

Iyah, gue merusak segalanya yang bahagia.. Alfini yang ternyata punya asma mengeluarkan obat salbutamol miliknya. Selang beberapa saat, nafas mulai berjalan sebagaimana mestinya walaupun kondisi yang gue dapet adalah kepala pusing, gemetaran, dan dada yang berdebar-debar.

Gue dikemulin jaket hasil donoran temen-temen gue. Dan gue dianter pulang begitu saat hujan reda di malam hari.

Itu kisah serangan pertama gue sejak serangan terakhir di SMA.

Sayangnya, serangan pertama bukanlah menjadi serangan terakhir. Di kala malam hari gue jadi sering batuk-batuk, dan nafas yang terasa agak gimana gitu. terlebih saat hujan turun.

Gue periksa ke Klinik di daerah semarang Kota. Mereka pun mendiagnosis gue dengan diagnosa asma. Mereka ngasih gue obat merk Lasal dan alat inhaler merk Ventolin yang gue beli dengan harga wow. -_- maklum mahasiswa apa-apa terasa menjadi lebih mahal.

Hanya saja ventolin jarang gue pake, karena menurut rumornya. Ventolin itu agak keras di paru-paru. Memang bisa melegakan sesak nafas tapi efek sampingnya itu yang juga katanya menakutkan. *yang gue baca dari internet lohh.. nggak tau dah bener atau nggak. Menurut kalian gimana???

Akhirnya berbekal dengan Lasal yang gue bawa hampir tiap hari. Dan gue minum hanya pas saat dada terasa. Gue pun kuliah di sana selama 2,5 tahun dan lulus diploma Teknik Kimia.

Di semester-semester akhir. Antara 5 hingga semester 7. Gejala sesak tidak sering timbul. Alias ini nafas fine-fine aja selama itu. Yah paling pernah terasa sesak namun intensitasnya hanya lewat dan nggak sampe gue minum obat. Ringan lah...

Hingga lulus pun, rasa sesak tak lagi muncul bahkan di kondisi hujan sekali pun...

Wisuda lewat hingga masuk masa pengangguran selama 10 bulan lamanya, sesak tak juga muncul. Bahkan gue sendiri udah lupa kalau dulu gue sering sesak. Si Lasal yang dulu sering dibawa-bawa bagaikan daun yang diterbangkan angin hingga ke ujung lautan. Bye-byee!!! heheh

Gue menjalani proses pencarian kerja dengan suka dan duka, hingga kerja pertama gue di pabrik Baja dan mengikuti pelatihan keras di Brimob dan pelatihan keahlian di Balai Latihan Kerja Serang selama 3 bulan. Rasa sesak kini tak pernah muncul.

6 bulan berlalu, dan gue diangkat menjadi karyawan tetap disana. Dan bekerja hampir 1 tahun lebih. Serangan sesak yang dulu pernah terjadi berasa ilang di telan langit ke-7... gue kerja seperti biasa...

Hingga masuk ke 2 bulan terakhir ini.

Di bulan agustus 2017, sesak yang dulu dilupakan. Kini mucul sedikit demi sedikit. Awalnya, gejala sesak yang tak parah, hanya terasa sedikit sesak di dada dan itu pun cuma bentar. Sekitar 3 kali gue mendapatkan momen itu, hingga tanggal ehhmm gue lupa tanggal berapa. Saat itu, saat sedang shift malam.

Pas magrib, abis buang cropbag seinget gue.

Dada gue terasa sesak. Saat itu, yang dipikiran gua hanyalah. “gue butuh salbutamol”.

SV gue, yang gue tau juga punya asma. Gue niat minta obatnya. Siapa tau beliau punya salbutamol.
Dan ternyata obat dia nggak sama. Otomatis gue berniat buat nanyain ke klinik perusahaan, siapa tau sedia obat itu. Dan ternyata juga nggak ada.

Pihak klinik nyaranin gue buat dikasih suplai oksigen terlebih dahulu. Cuma gue tolak saat itu karena gue mikir gue nggak butuh oksigen, dan lebih memilih buat balik ke tempat kerja. Sekitar jam 7. Kita istirahat semua. Gue duduk dengan muka yang sok kuat menahan rasa sakit.

Pikir gue, gue cuma nggak mau bikin semua panik.

Tapi apa daya ternyata rasa sesaknya makin kencang dan parah.

Salah satu rekan gue, diutus buat beli obat ke apotik di luar sana. Namun, karena prosedur perusahaan tak seperti itu, akhirnya gue dianter ke klinik perusahaan untuk mendapatkan pertolongan pertama. Selang dipasang, dan gue minum obat yang udah dibeli tadi.

Sayang, yang niatnya mau disembunyiin, malah ceritanya udah nyebar hingga ke telinga presdir. Ya Ampun.

Setelah kejadian itu, Batu-batuk selalu menyeruak tiap tengah malam. Hanya saja tak sampai sesak.

Serangan kedua sejak serangan pertama terjadi selang beberapa hari. Saat itu sore mau pulang. Gue dan rekan kerja gue pulang terakhir. Karena abis ngebersihin daerah cooling bed.

Saat balik menuju ruangan. Dada mulai terasa tak nyaman. Hanya saja gue sembunyiin dan mencoba bertahan.

Gue buru-buru ganti baju. Dan segera ingin pulang. Sayang, wajah gue terlihat tak bisa dibohongi. Rekan kerja gue sadar kalau gue kenapa-napa. Gue bilang ke dia kalau gue sesek. Tapi gue nggak mau kalau dia bilang ke SV dan leader gue. Cukup gue yang merasa dan dia yang tau.

Gue di temani dia, jalan menyusuri pabrik untuk keluar. Dada terasa mulai semakin terhimpit. Gue Absen pulang, dan berjalan menuju parkiran motor yang jalannya lumayan jauh. Ada kali 100 meter lebih.

Gue di temani dengan dia jalan perlahan menuju parkiran. Saat itu, nafas mulai terasa susah. Bicara pun terasa malas. Dengan susah payah gue jalan, mengatur nafas sebaik mungkin agar segera sampai di sana. Dengan selingan beberapa hentian buat ngatur nafas. Akhirnya gue duduk di motor gue.

Awalnya teman gue maksa buat dia nganterin gue ke rumah.  Tapi gue tolak karena rumah dia dan gue itu nggak searah dan jauhh. Gue tahu hari ini cukup melelahkan, jadi gue berpikir buat nggak ngerepotin dan mau pulang sendiri.

Gue juga bilang kalau gue mau ke kontrakan temen gue aja yang deket buat Istirahat disana. Dengan sedikit paksaan dari gue, dia akhirnya membolehkan gue buat pulang sendirian.

Di jalan, dengan nafas yang terasa terpogah-pogah, gue nyetir motor sefokus mungkin dengan laju yang pelan. Di jalan gue bertemu dengan rekan kerja lainnya. Yang berniat nengok teman kerja kami yang dirawat di RS karena penyakit tipus.

Mereka berhenti di alfamidi daerah damkar, gue pun ikut berhenti di sana berniat untuk menitip bingkisan buat teman kami yang di rawat.

Selesai menitipkan titipan. Gue izin ke mereka buat balik. Gue sampai di rumah teman gue dan istirahat di sana.

Sejak 2 kejadian terakhir itu, salbutamol kembali siap sedia di dalam tas buat jaga-jaga.
Kembali kejadian serupa datang lagi. Dan kali ini terasa lebih parah.

Tanggal 18 bulan september 2017.

Gue bersiap buat berangkat kerja. Sepatu, seragam, jaket hingga helm udah siap di badan. gue ngendarain motor gue menuju tempat kerja. Gue berangkat emang agak kesiangan. Jam 6:15 pagi gue baru berangkat, padahal bel kerja berbunyi jam 7 pagi.

Saat itu, gue baru sampai pertigaan daerah Palas. Nah pas disitu, tiba-tiba dada kembali terasa sesak. Gue langsung berhenti di pinggir jalan buat minum obat. Tapi entah kenapa obat itu nggak ada di dalem tas.

Gue pikir obatnya ketinggalan, jadi gue buru-buru buat balik ke rumah.

Gue tau gue nggak bakal bisa nyampe tempat kerja tepat waktu. Jadi, gue izin ke temen gue buat ngabarin kalau gue dateng agak telat.

Sampai di rumah. Obat yang gue cari ternyata nggak ada. Gue terus nyari di seluk beluk rumah namun hasilnya tetap nihil, sedangkan, dada gue terasa semakin dan makin terhimpit.

“Ya Allah,,, tolong hamba” 

Gue batuk sebatuk-batuknya, nafas gue susah seperti lo berdiri di ruangan yang besar penuh dengan udara tapi di ruangan itu nggak ada oksigen sama sekali.

Gue naik tangga menuju kamar gue. Gue berusaha mati-matian buat nafas tapi tetep nggak ada sama sekali udara yang masuk.

Rumah gue saat itu sedang nggak ada orang, bapak lagi di Jawa, Nyokap lagi di Pandeg. Gue sendirian di rumah.

Pengen rasanya gue minta tolong tetangga, hanya saja. Gue udah nggak mampu buat turun tangga. Pikiran gue udah kemana-mana. Hanya doa serta istigfar yang gue lantunkan saat itu.

Gue raih HP gue, untuk minta tolong temen kerja gue yang kontrakannya paling dekat menurut gue. Gue ninggalin pesan ke dia, dan mulai misscalin berkali-kali karena panggilan pertama, kedua, hingga ketiga tidak di angkat-angkat.

“please, Ya Allah...

“Iyah bay,,,??”

“t’t’to-lo-ngiinn g’g’gue pi..” dengan sisa tenaga gue ngomong terbata-bata ke temen gue.

Di pesan yang gue kirim. Gue minta tolong beliin obat yang biasa gue minum. Dan dia mengiyakan.

Dengan penuh harapan gue menunggu. Gue berusaha untuk sesadar mungkin. Lantunan doa gue ucapkan dalam hati.

Nafas yang semakin berat mulai membuat pandangan gue menggelap, kepala yang rasanya seperti di putar-putar.

Saat itu yang ada di pikiran gue hanyalah almarhum Ibu dan Bapak.

“Ya Allah maafkan atas segala kesalahan hamba....” jika memang ini yang..... air mata gue berlinang. Takut membayangkan segala pikiran yang rasanya terlalu mendahului.

“Bay....” pintu kamar di buka, suara tak asing terdengar dari balik pintu.

Temen gue datang dan langsung ngasih obat itu ke gue..

Selang, beberapa menit setelah minum obat. Jantung gue berasa berdebar-debar, tangan yang gemeteran tapi nafas yang mulai semakin sedikit demi sedikit terbuka...

Sambil tiduran gue mencoba mengatur nafas yang ada, mencoba menormalkan segalanya...

Mata yang gue buka secara perlahan melihat lampu yang terasa begitu terangnya menempel di plafon kayu.

“Ya Allah makasih atas segalanya. Kuambil ini sebagai bentuk kasih sayangMu serta pengingat diriku bahwa waktuMu itu Nyata...”

Besoknya gue konsul ke dokter.

Paru-paru gue di rontgen, gue bingung itu kenapa. Tapi yang jelas kata dokter paru-paru gue masih di tahap normal.

Dokter menjelaskan ini itu tentang seluk beluk asma, bahkan tentang asmatikus. Mengenai hal-hal yang perlu dilakukan dan dihindari. 1 minggu dia nyuruh gue buat rutin minum obat yang beliau berikan. Setelah itu, gue harus nunggu 2 minggu tanpa obat.

Ada 1 obat yang beliau berikan buat jaga-jaga semisal sesaknya tiba-tiba datang selama proses penantian 2 minggu.

Selanjutnya, Gue harus check up lagi untuk menentukan langkah selanjutnya.

lahir era tahun "95" menjadikan seorang bayu, pria mochi semakin beranjak umur. Punya hobi ngedekem di kamar setiap 'weekend' akibat suka-duka mencari segenggam rezeki.


Terimakasih kepada Allah SWT yang telah memudahkan segala jalan yang gue tempuh. Terimakasih juga karena telah mengirimkan special persons ; teman-teman gue, rekan-rekan kerja gue, dan keluarga yang perfect banget yang selalu menyokong gue untuk selalu maju ke depan.

Semoga apa yang gue saat ini kerjakan bisa bermanfaat buat gue dan orang lain. Aminn. wish me luck!! thank you xoxo

11 komentar

wah mas, hik... postnya penuh dengan deskripsi jadi kebayang di posisi mas seperti itu T.T

semoga lekas sembuh ya mas..

btw itu neubeulizer itu yg dipake di film MIB ya? *ditampar*

Ko aku baru dengar itu ada asmatikus? Maksudnya tikus yang terkena asma? he

Membaca ini ikut ada di posisi mas Bayu pada saat itu..Semoga lekas sembuh ya, Mas, dan semoga sakit yang dirasa bisa menggugurkan dosa yang telah diperbuat.. aamiin..

Tetap semangat berbagi dan menginspirasi lewat blog ini :)

klo aku sesaknya gara2 GERD, asam lambung, pintu lambungnya udah aus.
pas traveling ke Semarang kemarin ampun deh kayak mau mati
mana naik candi di gunung
gara2 pas di Solo makan nasi goreng pedes
emang mas, klo sesek kayak mau mati
udah baca kalimat talbiyah aja
tapi klo udah lega alhamdulillah
eh semoga lekas sembuh
jangan minum es dulu

semoga cpet sembuh yaa. jangan lupa bawa inhaler kemana-kemana. sekarang mah dunia penuh polusiii

dulu pas batuk pernah di kasih salbutamol sama dokter. terus muntah :( yaiyalah orang sakit apa di kasih apa, huhuuu

jadi terharu bacanya, terus beriktiar iya mas, ak doain semoga lekas sembuh dan tetap semangat mas,

Asmatikus maksutnya bukan tikus yang kena asma mas hahaha :))

Lebih lengkapnya disebut Status Asmatikus. Itu adalah kondisi asma yang berat dan gawat darurat.

Salam kenal mas. Nama saya juga Bayu dan saya juga menderita penyakit asma. Mumpung saya sedikit tahu jadi saya juga pengen sharing mas hehe :D

Asma itu seperti alergi, ada sesuatu yang mencetuskan terjadinya asma. Bisa jadi debu, kelelahan, batuk-pilek yang tak sembuh-sembuh, dan lain-lain. Jadi, untuk menghindari terjadinya asma, usahakan kita tahu apa pencetus asmanya dan hindari faktor pencetus itu. Pencetus asma saya adalah batuk-pilek. Jadi kalau saya sudah batuk-pilek lebih dari 1 hari nggak juga berkurang, saya langsung berobat. Mas Bayu bisa minta bantuan dokter untuk menelusuri pencetus asmanya.

Satu lagi mas, asma tidak bisa sembuh, tetapi asma bisa dikontrol. Obat asma juga ada dua jenis, yaitu tipe pelega (digunakan untuk mengurangi sesak saat serangan asma) dan tipe pengontrol (digunakan untuk mencegah terjadinya serangan asma). Bagi pengidap penyakit asma disarankan untuk selalu siap sedia obat pelega asma dimana pun dan kapan pun.

Obat asma jenis inhaler lebih cepat efek kerjanya dibandingkan dengan obat yang diminum, karena obat jenis inhaler langsung masuk ke saluran nafas. Cocok dengan penyakit asma yang merupakan penyakit saluran nafas. Efek samping yang parah seperti apa ya mas yang ditakutkan dari ventolin? Saya menggunakan ventolin lebih-kurang selama 3 tahun saat SMA dan sepertinya baik-baik saja hehe :D

Ikuti petunjuk selanjutnya dari dokter untuk mengontrol asmanya mas Bayu. Semoga sehat selalu mas o:)

waduh kalo asma sulit sembuhinnya, butuh proses bertahap. betul kata mbak vanisha, bawa terus inhealer, apalagi di jalanan yg banyak debunya. semoga lekas sembuh, deh. amin.

oiya, mas. blogmu udah tak follow, kalo berkenan silakan follow juga blog-ku ya. biar makin akrab. salam kenal, ya. he he.

ya ampun mas, sampe merinding saya bacanya. Semoga lekas sembuh yah mas, dan jangan lupa pola hidupnya juga dijaga dan jangan terlalu banyak nguras stamina kalau kerja.

Asma ini kalau lagi datang cukup parah juga ya, apalagi kalau terjadinya sama anak2. Sering dengar juga cerita teman2 yang anaknya punya asma. Moga disehatkan terus, Mas.

yukkk dimari yang mau komentar...
NOTE : jangan masukin link aktif, nnti di deteksi SPAM.
EmoticonEmoticon