Berkaca Pada Tsunami Selat Sunda Anyer

Hiii.. lama tak jumpa... Akhirnya postingan gue yang satu ini muncul juga.

Terakhir nulis kisaran 19 Desember 2018 yang lalu.. Dan Sekarang udah tanggal 9 january 2019. Sampai ganti tahun yah baru nyempetin nulis. lagi -_- hehehe

Iyah, kemarin pas bulan desember itu lumayan sibuk..

Ngurusin barang-barang yang dijual, sama 1 barang yang dikirim ke Bandung itu hampir hilang. Akibat dari salah sortir tim ekspedisi.  Jadi, barang baru sampai ke konsumen setelah 7 hari. -_- empunya yang beli sampai marah-marah ke gue. Untung tim ekspedisi profesional banget dalam meredam emosi gue yang hampir meluap.

Selain itu, gue juga ditunjuk jadi salah satu panitia persiapan buat family gathering ke Bogor yang kita laksanain pas tanggal 22 Desember 2018 kemarin.

Jadi di penghujung penutupan akhir tahun, gue ngabisin jatah cuti gue buat mengosongkan segala kegaduhan yang terjadi di 2018 lalu. Kebanyakan waktu gue di pakai untuk quality time bareng keluarga dan sahabat-sahabat.

Oh ya sebelumnya kan sekitar tanggal 22 desember 2018. Tanah kami Banten ditimpa musibah besar tsunami selat sunda yang menghantam Anyer.

Saat itu kita lagi di Bogor buat family gathering.

Gue masih inget malam itu, acara ramah tamah kita sunyi sekejap begitu ngedengar kabar bahwa ada tsunami menghantam Anyer. Soalnya ada beberapa di antara kami memiliki keluarga di sana.

Jadi khawatir dengan kondisi serta keadaan keluarga di sana.

Jujur, awal ngedengar kabar itu. Gue sempet nggak percaya karena di Internet belum ada kabar apa-apa. Sedangkan setahu gue, tsunami itu muncul karena ada gempa yang besar. Sedangkan, di aplikasi BMKG yang gue instal tidak memberikan info gempa di daerah Lebak atau sekitarnya di Banten.

Tapi karena khawatir kami menghubungi keluarga kami untuk menanyakan keadaan disana.

Dan yah... kami dapat kabar bahwa Tsunami baru saja menerjang kawasan pesisir Anyer..

Disusul dengan klarifikasi BMKG setelahnya.

Dalam peristiwa itu, saudaraku di sana juga ikut kena imbasnya. Tapi alhamdulillah tidak terlalu parah, tidak seperti daerah pesisir yang parah banget saat gue dan teman gue nengok kesana.

Gambar karya Bayu Kurniawan, Bersama-sama bersatu tidak saling menghakimi... 
Puing-puing berserakan dimana-mana. Tapi Alhamdulillah, bantuan dari kalian sangat bermanfaat bagi mereka di sana. Harapannya semoga tak ada musibah lain yang parah di Tahun ini yang menimpa Negara tercinta kita. Amin

Karena jujur, Pas ane nengok kesana dan mendengar kesaksian cerita mereka. Itu sumpah sedih banget. Gue bahkan nggak bisa ngebendung air mata gue.

Gue nggak bisa ngebayangin bagaimana rasanya seketika ada gulungan air yang dahsyat tiba-tiba datang di tengah waktu santai kalian.

Orang-orang berlarian keluar rumah sambil menggendong anak-anak mereka demi menyelamatkan diri. Bahkan melihat beberapa orang yang ikut menjadi korban dalam ombak itu.

Yang mereka bisa lakukan saat itu hanyalah berlari dan mengucap doa tiada henti..

Dian, Begitu nama yang kami kenal. Dia adalah salah satu korban yang selamat, dan bercerita kepada kami tentang suasana saat kejadian terjadi. Alhamdulillah, Dia beserta Ibu dan Bapaknya selamat dari musibah itu.

Dia bercerita saat itu dirinya sedang membeli telor di warung. Rumah dia memang dekat dengan daerah pesisir Tanjung lesung. Jalan yang ditelusuri lumayan gelap dan saat itu juga, tiba-tiba orang-orang pada berlarian disusul dengan air yang sangat besar menerjang.

Dian yang terkejut langsung berlari bersama dengan orang lain menuju sebuah rumah kontrakan susun. Alhamdulillah Dia dan beberapa orang lainnya naik ke atas atap rumah itu dan selamat.

Beliau juga bercerita saat itu dia hanya menangis karena terus-terusan memikirkan keluarganya dirumah. Karena tidak bawa HP, dia tidak tahu bagaimana kabar Bapak dan ibunya.

Alhamdulillah, Kedua orang tua dia selamat.

Musibah tsunami selat sunda itu mengakibatkan luka dalam hati beserta kerusakan materill dan immateril. Semoga tidak ada musibah besar yang menghantam Negara tercita kita kedepannya. Aminn

"Ya Allah" begitu ucapku dalam hati.

Kemudian, kami berdoa bersama sebelum pamitan pulang.

Terimakasih mba Dian. Semoga kalian dan lainnya, diberikan ketabahan serta kesabaran yah.. :D

Pria mochi yang suka bergalau, suka main, rajin, baik sama orang, tidak sombong, n suka menabung... Ahahahaahahasiiiiaappp :D

1 komentar

  1. Ikut merasakan trauma psikis yang dirasakan Dian dan para korban tsunami yang selamat. Pasti jadi pengalaman sangat traumatis.
    Semoga tidak terulang lagi bencana seperti ini dan datangnya bencana bisa terdeteksi sebelumnya dengan baik.

    BalasHapus

yukkk dimari yang mau komentar...
NOTE : jangan masukin link aktif, nnti di deteksi SPAM.
EmoticonEmoticon