Berhenti Jadi Kurir Kecemasan

Table of Contents

Diclaimer : Ini bukan tulisan Hate Speech yaa genks yaa... Bacanya harus dengan intonasi yang adem ayem.. 🤗

Photo was taken by me 💌

Kali ini gue mau nulis topik yang ‘agak’ serius 🥰. Semoga apa yang gue tumpahin di sini bisa hadir sebagai penengah di tengah bisingnya dunia maya 😸💌. Asikk.. Tsahh..

Beberapa hari terakhir, timeline gue lagi penuh banget. Tapi bukan penuh sama video kucing, atau promo diskon tanggal cantik. Isinya kurang lebih video seragam soal...

"Indonesia mau begini."
"Indonesia bakal begitu."
"Siap-siap krisis."
"Semua sudah terlambat."
"Kabur aja yukkk."

Lalu di video itu, ada satu orang yang ngomong dengan nada sangat meyakinkan. Entah dia memang influencer, analis kah, atau orang yang baru kemarin sore belajar makroekonomi dari tiga video pendek berdurasi satu menit. I don’t know 😊...

Besoknya, muncul lagi orang lain dengan pendapat yang beda total. Lusanya, nongol lagi akun lain dengan teori yang jauh lebih menyeramkan. Terus minggu depannya? Ada yang bilang semuanya bakal hancur lebur 😫. Gue be like "Arrgghh Tidakkk..."

Puyeng amat yakkk 😂...

Padahal kalau dipikir-pikir Negara kita ini sudah berdiri puluhan tahun, tapi kok bisa-bisanya selesai dianalisis hanya dalam satu video TikTok semenit sambil makan seblak.

Tentu gue nggak bilang semua kritik itu salah. Nggak lohh yaaa genks 🥰. Kritik itu penting. Diskusi itu butuh. Mengawasi jalannya pemerintahan juga wajib hukumnya. Tapi, ada satu kebiasaan yang belakangan menurut gue cukup bikin lelah yaitu Kebiasaan menjadi kurir kecemasan...

Setiap menemukan postingan yang bikin takut, langsung dibagikan. Setiap nemuin prediksi buruk, langsung disebarkan. Setiap melihat orang yang ngomongnya terdengar pintar, langsung dianggap pasti benar. Tanpa sadar, kita jadi kaya agen distribusi kekhawatiran nggak sih...?

Padahal, belum tentu kita sendiri beneran paham sama isi konten yang kita bagikan. Kadang lucunya, orang yang share itu bahkan cuma baca judulnya doang. Pas disuruh menjelaskan ulang isi artikelnya, jawabannya simpel "Pokoknya serem deh."

Agak miris, tapi ya begitu adanya.

Internet hari ini tuh udah beda banget sama internet yang dulu gue kenal. Dulu, kalau ada isu besar, penyebarannya tuh relatif lambat. Orang masih banyak yang baca koran pagi, nonton berita malam di TV, atau dengar kabar burung dari tetangga yang katanya dapat informasi dari saudaranya yang kerja di kota 😊.

Kalau Sekarang? Satu orang ngomong, lima ribu akun membagikan, lima puluh ribu akun mengomentari, dan lima ratus ribu akun mendadak panik 😫. Dan semua kehebohan itu bisa terjadi bahkan sebelum sarapan kita selesai dibuat. ahuhu 😭

Apalagi Indonesia termasuk negara dengan jumlah pengguna internet dan medsos Super Mega Raksasa. Akibatnya, setiap isu bisa membesar jauh lebih cepat daripada kemampuan otak kita untuk mencerna informasinya.

Dan tahu sendiri kan? Kadang yang viral itu bukan informasi terbaik atau yang paling valid, melainkan informasi yang paling memancing emosi. Algoritma medsos nggak peduli apakah kita lagi tenang atau panik. Yang penting bagi mereka adalah kita terus menonton, terus mengetik komentar, dan terus-terusan pencet tombol share yang nggak sampai 5 detik udah menyebar dari Sabang ke seluruh Indonesia.

Makanya jangan heran kalau konten yang sering lewat di feed kita adalah konten yang bikin jantung sedikit berdebar. Karena di dunia digital, ketakutan memang komoditas yang yahhh laris manis dijual 💌.

Padahal kalau kita mau buka lagi buku sejarah dunia, manusia itu sebenarnya sudah berkali-kali menghadapi situasi yang jauh lebih berat dari hari ini.

Ada masa dimana negara lain mata uangnya jatuh sampai ratusan persen. Ada yang mengalami hiperinflasi sampai harga beras berubah dalam hitungan jam. Ada masa ketika minyak bumi langka dan dunia panik soal pasokan energi. Belum lagi krisis keuangan global, pandemi, perang, sampai resesi.

Kalau semua kejadian masa lalu itu dijadikan konten medsos zaman sekarang, mungkin captionnya bakal berbunyi "Fix, dunia kiamat."

Tapi nyatanya kan? Manusia tetap hidup. Tetap bekerja, tetap menikah, punya anak, bayar cicilan, tetap ribut soal abang parkir yang hobinya ngeghosting, dan tetap rebutan bakwan terakhir 🤣. Dunia ini terus berjalan, bahkan di masa-masa yang jauh lebih sulit.

Gue jadi ingat satu hal menarik tentang sejarah. Ketika kita membaca suatu peristiwa masa lalu, semuanya kelihatan kayak cerita yang sudah selesai. Kita tahu akhirnya gimana. Siapa yang bertahan, kita tahu ekonominya akhirnya pulih.

Tapi ingat gak? Pas kita hidup di masa itu yang nggak tahu akhir ceritanya bagaimana. Kita menjalani setiap harinya penuh dengan ketidakpastian yang persis sama kayak yang kita rasakan sekarang kan?

Bedanya, Dulu kita nggak punya notifikasi HP yang setiap lima menit bunyi mengingatkan kalau dunia lagi hancur. Kita nggak punya timeline yang secara otomatis mengumpulkan seratus pendapat paling pesimis dalam satu layar. Nggak ada influencer yang tiap hari bikin konten dengan ekspresi wajah kayak baru melihat meteor mau menghantam bumi.

Dan mungkin, absennya hal-hal itu sedikit banyak membantu kesehatan mental kita 😇.

Jujur aja genks, terkadang yang membuat kita lelah itu bukan kondisi aslinya, melainkan paparan informasi tentang kondisi tersebut yang datang bertubi-tubi tanpa henti.

Misalnya, Rupiah melemah beberapa persen. Ya, itu memang berita ekonomi. Layak dibahas? Iya. Layak diperhatikan? Jelas.

Tapi ketika satu berita yang sama dipecah jadi 50 video berbeda, ditambah 100 komentar bernada kiamat, lalu dibagikan lagi ke grup keluarga, grup alumni, grup RT, grup hobi, sampai grup yang kita sendiri lupa kenapa dulu bisa masuk ke sana... akhirnya yang tersisa bukan lagi informasi. Yang tersisa cuma kecemasan murni. Ya nggak sih?? 

Padahal, kecemasan nggak otomatis menyelesaikan masalah 🤗.

Kalau semua orang panik, harga cabai di pasar belum tentu turun. Kalau semua orang marah-marah di kolom komentar, harga rumah juga gak bakal mendadak murah. Mau kita bikin prediksi seseram apa pun, tagihan listrik rumah tetap bakal datang tepat waktu 😸.

Makanya, belakangan ini gue mencoba untuk sedikit lebih selektif. Bukan berarti gue menutup mata atau hidup dalam gelembung kebahagiaan palsu, nggak gitu. Tapi lebih ke membiasakan diri buat bertanya sebelum ngeklik sesuatu..

"Apakah informasi ini beneran berguna?"

"Apakah ini membantu orang memahami situasi?"

"Atau konten ini cuma numpang lewat buat nambah ketakutan?"

Karena nggak semua hal harus dibagikan. Nggak semua kekhawatiran harus kita wariskan ke orang lain. Kadang, tombol “share” yang sengaja nggak kita pencet itu justru adalah bentuk kontribusi sosial yang nyata 😚.

Bayangkan kalau setiap orang mengurangi satu saja postingan fear mongering per hari. Mungkin timeline kita bakal tetap ramai, tapi setidaknya suasananya jauh lebih sehat, lebih tenang, dan lebih manusiawi.

Kita Jalan Saja nggak sih, Pelan-Pelan, penuh dengan rasa Bangga selayaknya pas kita abis nonton video Pembukaan Asian Games Tahun 2018 kemarin... 🤗 Ehh nonton lagi yukkk.. ahaha


Lagipula, hidup sehari-hari di dunia nyata udah cukup menantang, kan? 🤣

Ada yang lagi pusing mencari pekerjaan, ada yang lagi deg-degan menunggu hasil interview (Lohh malah curhat 🤣), ada yang lagi berjuang merintis usaha, ada yang lagi pusing mikirin biaya sekolah anak.. Mereka-mereka ini nggak butuh tambahan seratus alasan baru buat merasa takut. Mereka mungkin cuma butuh ruang buat bernapas. Butuh harapan yang realistis.

Gue percaya kalau Bangsa ini tuh udah kenyang banget sama pengalaman soal bertahan hidup. Kita pernah melewati banyak fase sulit. Kadang kita lewatin dengan elegan, kadang dengan berantakan, kadang sambil mengeluh, atau sambil bercanda. hahaha 😂 Tapi buktinya, tetap lewat kan?

Mungkin memang itu salah satu kemampuan terbaik manusia. Bukan kemampuan untuk meramal masa depan, melainkan kemampuan untuk beradaptasi ketika masa depan itu akhirnya datang.

Jadi, kalau besok kita nemu lagi postingan yang isinya cuma memicu panik, marah, atau takut, coba deh berhenti sebentar. Baca sampai selesai, cari perbandingan dari sumber lain, lalu pikirkan kembali manfaatnya. Setelah itu, tanyakan satu hal sederhana ke diri sendiri..

"Gue ini lagi membagikan informasi, atau lagi ngirim paket kecemasan ke orang lain?"

Kalau jawabannya yang kedua, mungkin ada baiknya postingan itu cukup berhenti di layar HP kita aja. Kita nggak perlu ikutan mengaduk di air yang sudah keruh....

The Whisperwind
The Whisperwind Pria mochi yang gemar Gambar, Baca Buku, dan Cerita 🫰🌿. Visit 'My Galery' to see My ArtWork

1 komentar

Ngobrol Kuyy,,, biar makin sayang.. 'Eaakkhhh bisa aja lu buntelan Karung Goni!! 🫣🤣'
Comment Author Avatar
9 Juni 2026 pukul 12.23 Delete
setujuuuu banget bay... tau ga sih, aku udah uninstall FB, threads skr... tinggal nunggu waktu utk uninstall IG.. kalau sampe semua isinya hanya berita yg bikin kepala dan mentalku sakit, aku lebih rela hidup tanpa medsos , tp pikiran dan mentalku sehat..

krn aku tahu bangettttt, berita2 yg begitu, malah mentrigger emosi dan moodku... dan kalau moodku drop, yg kasian anak2 dan suami.. krn aku pasti lgs ga stabil emosinya...

dan ga mau jadi begitu.. iyaaa sih, kita tetep hrs peduli ama apa yg terjadi dengan negara .. tp aku memilih bukan baca berita lewat medsos..

serius sediiiih banget kalau udh kebaca berita2 gitu :( . ini kalau IG pun makin parah, beneran aku bakal detoks dulu sampai kondisi memungkinkan