Catatan Dua Bulan Setelah Layoff

Table of Contents
Haloo Guys, I'm Back...

Another month, another fresh start to begin.. Seperti biasa sebelum masuk tulisan ;
Ubur-ubur Ikan Lele, Piye kabare Le? 😀 *Maksain banget dah. huahaha

Semoga selalu sehat, baik, aman, nyaman serta bahagia selalu ya. Amin Ya Rabb.

Tanggal udah menunjukan angka 6 di bulan Juli 2026. Means udah lewat 2 bulan buat gue pasca layoff di akhir April 2026. "Gimana bay, mental aman??" Sejujurnya aman, meskipun nggak munafik Overthinking tetap ada tapi gue selalu berusaha untuk embrace segala perasaan yang muncul daripada pura-pura nggak ada apa-apa..

Akhir-akhir ini gue justru lebih sering membedah penyebabnya. Alih-alih menyibukkan diri untuk mengalihkan pikiran, gue lebih sering mencari akar masalah kenapa perasaan itu muncul.

Biasanya gue tulis semua hal yang lagi mengganggu pikiran sebanyak-banyaknya. Kalau lagi overthinking soal pekerjaan, ya gue tulis. Kalau lagi khawatir soal keuangan, gue tulis juga. Bahkan hal-hal kecil yang bikin nggak nyaman pun gue masukin ke catatan.

Setelah itu gue kelompokkan berdasarkan kategori. Mana yang memang bisa gue kendalikan, mana yang nggak bisa gue kendalikan. Mana yang perlu tindakan nyata, mana yang cuma ketakutan yang dibuat oleh pikiran sendiri.

Dan jujur aja, prosesnya cukup membantu. at least for me..

Gue berpikir karena sering kali yang bikin capek itu bukan masalahnya, tapi pikiran yang muter-muter tanpa arah 😒. Saat semuanya gue tulis, ternyata banyak hal yang selama ini terasa berat dan besar justru bisa terlihat lebih jelas dan lebih realistis.

Contohnya soal pekerjaan. Dulu pikiran gue cuma berisi, "Gimana kalau nggak dapat kerja?" Tapi setelah ditulis, ternyata pertanyaannya bisa dipecah menjadi beberapa bagian yang lebih spesifik. Apakah gue masih aktif melamar? Iya. Apakah masih ada perusahaan yang sedang memproses lamaran? Ada. Apakah kondisi keuangan masih bisa bertahan untuk beberapa waktu? Masih.

Jawaban-jawaban kecil seperti itu memang nggak langsung menghilangkan rasa khawatir, tapi setidaknya membuat gue lebih sadar bahwa gue masih terus bergerak..

Sekian Intermezzonya. hehe ☺️

"Well, jadi gimana bay Bulan Juli.. Apakah ada cerita??"

Buanyak guys 😇.. 

Salah satunya yang baru, besok selasa 7 Juli 2026 gue ada Interview HR di Perusahaan Kimia di Kota tempat gue tinggal. Bersyukurnya prosesnya Online, jadi lumayan memudahkan disisi waktu dan persiapannya.

Selain itu, gue juga lagi menunggu proses lanjutan dari salah satu perusahaan yang sebelumnya udah gue ikuti proses rekrutmennya. Alhamdulillah ada perkembangan setelah interview user. Hanya saja di akhir Juni kemarin mereka sedang fokus menghadapi audit, jadi prosesnya dilanjutkan pada bulan Juli ini. Semoga ada kabar baik.

Sama gue juga lagi proses rekrutmen untuk pekerjaan WFH dari perusahaan di Jakarta. Saat ini masih dalam tahap diskusi dan balas-balasan email terkait lingkungan kerja di rumah, regulasi kerja, ekspektasi perusahaan, dan ekspektasi gue sebagai kandidat. Masih panjang perjalanannya, tapi ya dijalani saja satu per satu. 

Wish me luck yaa...

Yaa, begitulah kehidupan gue sebagai jobseeker aktif, gue berusaha untuk menjemput sebanyak mungkin pintu rezeki yang terbuka. Beberapa ada yang lanjut, ada yang berhenti di tengah jalan, ada yang belum memberikan kepastian. Semuanya gue anggap sebagai bagian dari proses.

Yang terpenting, gue tetap berusaha melakukan bagian gue semaksimal mungkin.

Sisanya gue serahkan kepada Allah.

Belajar Kalimba

Oh iya, ada satu hal baru yang gue mulai sejak akhir Mei 2026 dan masih berlanjut sampai sekarang, yaitu belajar main kalimba. Hehe 😂.

Hidup kan nggak melulu soal kerja kann..

Awalnya gue cuma iseng karena penasaran sama alat musik yang satu ini. Suaranya merdu dan somehow bisa memberikan efek ketenangan yang hmmm sulit gue jelaskan. haha 😂. Pokoknya ada sensasi damai ketika mendengar suaranya.

Akhirnya gue memutuskan untuk membeli kalimba merk Meinl berbahan kayu akasia. Harganya memang lumayan pricey, sekitar 600 ribu rupiah. Tapi setelah dicoba, gue jadi paham kenapa banyak yang merekomendasikan. Suaranya jernih, resonansinya bagus, dan cukup nyaman dimainkan.

Sebelumnya gue sempat membeli kalimba merk lain inisial depan M belakang A yang terdiri dari 4 suku kata dengan harga sekitar 160 ribuan. Jujur saja, menurut telinga gue yang awam ini, kualitas suaranya kurang halus. Beberapa tines, terutama pada nada tinggi, ada kaya semacam dead tines sehingga bunyinya terdengar kurang baik. Udah coba dituning tapi sama aja. Karena itulah, gue putuskan untuk ngembaliin ke tokonya.

Selama kurang lebih satu bulan terakhir, gue belajar dari nol. Mulai dari fingering, mengenal nada dasar, sampai memainkan beberapa chord sederhana. Alhamdulillah, sekarang gue sudah bisa memainkan tiga lagu sederhana dengan chord dasar. hehe 😇

Memang masih sering salah pencet, udah gitu kadang temponya masih berantakan, kadang nge-Blank mau pencet yang mana 🤣. Tapi jujur seru dan menyenangkan sih. Ada kepuasan tersendiri setiap kali berhasil memainkan lagu yang sebelumnya terasa sulit.

Jadi buat gue pribadi, kalimba menjadi salah satu cara untuk menikmati proses dan memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat sejenak di tengah rutinitas melamar pekerjaan, menunggu kabar rekrutmen, dan berbagai ups and down yang ada, 

Barangkali ada yang mau lihat ini ada videonya.. hehe. 

Oke, cukup sekian laporan bulan Juni kali ini. 😄

Kalau dipikir-pikir, ada banyak hal yang berubah dalam cara gue memandang kehidupan selama beberapa bulan terakhir. Mungkin karena kondisi yang berubah, juga karena gue akhirnya punya waktu untuk berhenti sejenak dan melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda.

Gue jadi teringat masa-masa ketika masih bekerja dulu.

Saat itu rasanya hidup seperti berjalan begitu cepat. Bangun pagi, berangkat kerja, pulang pagi, sore atau malam, istirahat, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Nggak ada yang salah dengan itu. Bahkan gue bersyukur pernah memiliki pekerjaan yang bisa menopang kehidupan gue selama bertahun-tahun.

Tapi di tengah rutinitas tersebut, ada banyak hal yang seringnya gue tunda. Belajar hal baru, menikmati hobi, menghabiskan waktu dengan keluarga, atau sekadar duduk tenang tanpa memikirkan target berikutnya.

Ironisnya, justru setelah kehilangan pekerjaan, gue mulai menyadari betapa berharganya hal-hal kecil yang dulu sering gue anggap biasa.

Ternyata hidup bukan hanya tentang pekerjaan, jabatan, atau angka di slip gaji. Semua itu penting, Yes of course. Tapi ada hal-hal lain yang nggak kalah berharga seperti kesehatan, waktu, ketenangan pikiran, keluarga, teman-teman yang peduli, dan kesempatan untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Apakah gue ingin kembali bekerja?

Tentu saja. Bahkan sangat sangat sangat ingin.

Tapi kalau ada satu hal yang ingin gue bawa ketika nanti kembali bekerja adalah pemahaman bahwa pekerjaan merupakan bagian dari hidup, bukan seluruh hidup itu sendiri.

Dan mungkin, itu salah satu pelajaran terbesar yang gue dapatkan selama perjalanan ini. Peace out

The Whisperwind
The Whisperwind Pria mochi yang gemar Gambar, Baca Buku, dan Cerita 🫰🌿. Visit 'My Galery' to see My ArtWork

Posting Komentar