Rabu, 02 Maret 2016

Aku Tahu Kamu Lelah Dengan Hidup Ini, Begitu Pula Dengan Mereka

Malam ini aku terduduk, terdiam menatapi gelapnya langit tanpa satupun cahaya bintang. Aku terduduk diatas sebuah pembatas yang terbuat dari semen dengan cuaca dingin yang terasa menusuk tulang. Amat sunyi suasana yang dirasakan mengingat semua orang telah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing.

Terdengar suara jam berdentang “Teng,, Teng,,, Teng” menandakan bahwa hari sudah tengah malam.

Aku duduk termenung dalam lamunanku yang terasa tak ada habisnya.

Terduduk Termenung Dalam Sunyinya Hidup, Via Pixabay.com
Suara gesekan pilu pohon yang terhembus oleh angin menambah syahduh malam ini. Tetes demi tetes air mulai berjatuhan. Aku menangis dalam gelapnya malam.

Petir mulai menyambar, suara gemuruh mulai terdengar. Demikian pula dengan hujan yang mulai turun menambah dinginnya malam yang semakin terasa menusuk tulang.

Kemudian, aku berdiri dan berjalan kedepan ke sebuah pintu kayu berwarna coklat. Lalu kubuka pintu itu. Pintu yang akan membawaku ke sebuah tempat dimana aku bisa merenung sehabis-habisnya.

Ruangan itu sepi, berukuran 3*6 meter. Tak banyak perabotan didalamnya. Hanya ada sebuah tempat tidur dan lemari dengan kipas yang berputar menggerakkan angin ke segala arah.

Aku terduduk termenung diatas kasur yang berisikan kapuk.

“Ya Tuhan,, mengapa???” batinku menangis pilu.

“Mengapa aku terus memikirkan hal ini seolah-olah tiada ujungnya. Aku ingin terlihat seperti yang lainnya, dimana tak terlihat satu pun gundah dalam raut wajah mereka. Sesungguhnya mereka amat mengkhawatirkanku, tapi aku tak tahu apa yang mesti kuperbuat” sambil duduk aku merungkupkan wajahku ke dalam telapak tanganku dengan siku yang menyandar ke paha.

Aku terus merenung dalam sunyinya malam. Hanya suara kipas serta kicauan burung malam yang terdengar menjadi musik penghiburku.

Kemudian aku berbaring di atas kasur berisikan kapuk dengan sprei yang memiliki corak bunga berwarna kuning.

Kutengok samping kananku terlihat kertas yang menempel di tembok bercat kuning bertuliskan “Aku di Tahun 2016”

Waktuku semakin habis, apa yang kutuliskan ternyata belum tercapai hingga saat ini. Mengapa semua terasa sulit, dan terasa membingungkan. Aku sudah mengupayakan segala sesuatu, tapi mengapa belum ada secercah cahaya yang menerangi hidupku.

Aku menangis pilu dalam sunyi dan gelapnya ruangan.

Kemudian, setitik cahaya terlihat samar diatas pandanganku. Aku terlelap dalam tidurku.

Cahaya itu semakin terang, dan amat terang, hingga akhirnya cahaya itu menyerupai sosok. Sosok yang selama ini aku rindukan, sosok yang selama ini aku nantikan.

Dibalik sosok itu, Dia berkata “Wahai Anakku, Aku tahu apa yang kau pikirkan malam ini”

“Apa yang Kau pikirkan adalah hal yang hampir setiap orang pikirkan dan tak akan pernah habis”

Aku menjawab dengan jawaban lirih menahan air mata, “Aku tak tahu harus bagaimana lagi wahai Ibu, Bapakku. Aku sudah terasa amat lelah dan sangat lelah”

Kemudian, cahaya itu berubah menjadi sebuah pemandangan pilu dan menyedihkan. Sebuah pemandangan yang menggambarkan seseorang yang tidur tanpa atap dan hanya beralaskan selembar karton.

Sebuah pemandangan yang menggambarkan beberapa orang mengais makanan dari tempat yang tak seharusnya berasal.

Sebuah pemandangan yang menggambarkan seseorang harus jalan berkilo-kilo meter jauhnya hanya demi mengantarkan sesuap nasi kepada keluarganya yang menunggu dengan rasa penuh penantian.

Sekejap cahaya itu hilang. Hilang tak berbekas.

Kemudian, cahaya itu muncul tepat diatas kepalaku dalam kondisiku yang sedang tiduran. Cahaya itu membumbung menjadi sosok wanita yang selama ini aku rindukan.

Dia mengecup keningku dan berkata “Apa yang telah kau lakukan wahai anakku? Apakah kau pantas berkeluh kesah atas apa yang telah engkau korbankan? Engkau lakukan?”

“Apakah kau pantas berputus asa di depan mereka yang telah berusaha lebih jauh darimu?”

“Apakah pantas? kau sembunyikan nikmat yang telah Ia berikan kepadamu?

“Apakah kau pantas mengeluhkan seberapa beruntungnya engkau bila dibandingkan dengan mereka?”

“Aku tahu kau lelah wahai anakku, demikian pula dengan mereka!!”

“Mereka juga sama memikirkan apa yang kau pikirkan. Jadi Ibu mohon teruslah Kau berusaha dan sabar atas apa yang telah kau pilih.”

“Percayalah akan kekuatan suatu Harapan yang akan membawamu ke posisi yang tak terduga.”

“Percayalah wahai anakku, Percayalah, jangan kecewakan kami dengan keputus asaan yang engkau lakukan”

Kemudian sosok itu membumbung menjadi cahaya berwarna putih keemasan dan menghilang tepat diatas kepalaku.

Aku terbangun dalam kondisi air mata yang bercucuran. Kemudian, aku beranjak bangun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Dalam solatku, aku bersyukur atas petunjuk yang telah Engkau berikan. Terimakasih Ibu atas semangat yang telah kau tanamkan kepadaku. Terimakasih Ya Tuhan, Terimakasih.

~The End~ Sebuah catatan pribadi yang ditulis pada suatu malam.

lahir era tahun "95" menjadikan seorang bayu, pria mochi semakin beranjak umur. Punya hobi ngedekem di kamar setiap 'weekend' akibat suka-duka mencari segenggam rezeki.


Terimakasih kepada Allah SWT yang telah memudahkan segala jalan yang gue tempuh. Terimakasih juga karena telah mengirimkan special persons ; teman-teman gue, rekan-rekan kerja gue, dan keluarga yang perfect banget yang selalu menyokong gue untuk selalu maju ke depan.

Semoga apa yang gue saat ini kerjakan bisa bermanfaat buat gue dan orang lain. Aminn. wish me luck!! thank you xoxo

yukkk dimari yang mau komentar...
NOTE : jangan masukin link aktif, nnti di deteksi SPAM.
EmoticonEmoticon